Nasionalisme mahasiswa

Nasionalisme di Indonesia mulai muncul sejak perang pra kemerdekaan hingga masa awal terlahirnya republik ini.Hal ini diwujudkan dengan berbagai perlawanan terhadap para penjajah melalui peperangan. Bahkan melalui berbagai media komunikasi kala itu seperti radio dan surat kabar meski dalam bentuk yang serba terbatas. Namun nasionalisme meluntur selama beberapa kurun waktu. Semangat nasionalisme Indonesia kembali diperdengarkan sejak harta karun kekayaan Indonesia diakui oleh negara tetangga. Dari pengakuan wilayah NKRI hingga warisan-warisan leluhur seperti batik dan angklung.Nasionalisme kembali menjadi isu sentral setelah Indonesia meresahkan dirinya sendiri atas keteledorannya selama ini.

Di perguruan tinggi, pembicaraan mengenai nasionalisme hanya sebatas diskusi kelas dan kertas makalah dalam mata kuliah kewarganegaraan. Diskusi tentang nasionalisme dapat terlewati dengan begitu  semangatnya selama dalam kelas, namun akan segera luntur setelah kelas selesai. Setelah itu mereka lupa, apa sebenarnya nasionalisme itu?

Tidak banyak para mahasiswa yang (kadang) justru malu ketika harus membicarakan tentang nasionalisme. Mereka menganggap bahwa nasionalisme hanyalah perbincangan basi, namun sejatinya mereka hanya kurang percaya diri akan hal ini dan inilah yang menjadi kritik bagi pribadi mahasiswa Indonesia. Banyak mahasiswa dan generasi muda yang merasa enggan untuk sekadar memperbincangkan masalah nasionalisme. Konsep nasionalisme dianggap terlalu berat untuk dipahami dan hanya layak menjadi santapan para politikus semata. Paradigma ini tidak salah, walaupun juga tidak sepenuhnya benar. Nasionalisme cenderung dipandang sebagai hal yang terlalu serius bagi generasi muda yang mayoritas masih menyukai aktivitas-aktivitas santai dan tidak memerlukan banyak pemikiran reflektif. Mereka acuh dan hanya menganggap dirinya “numpang” hidup di suatu wilayah tanpa ada tanggung jawab untuk menjaga dan membela negara nya. Permasalahan ini tentu harus diselesaikan dengan membangun jiwa nasionalisme diantara para mahasiswa yang nantinya akan jadi agen pengubah bangsa di masa yang akan datang.

Di kasus yang lebih parah lagi, nasionalisme hanyalah sebuah kata sederhana yang hampir tidak pernah terdengar. Kata yang mungkin selalu dijauhi oleh sebagian besar mahasiswa, sekalipun mahasiswa yang dinyatakan sebagai agen perubahan. Sebagian mahasiswa telah kehilangan nasionalisme, sebagian yang lain mempunyai nasionalisme laten. Hanya segelintir dari mereka yang bisa dikatakan mempunyai nasionalisme sejati

Mahasiswa begitu banyak menyalahkan, terlalu banyak menuntut, tanpa melakukan apapun.Lihatlah ketika budaya kita diklaim oleh Malaysia, mahasiswa ramai-ramai berkomentar.Menuyudutkan dan menyalahkan, seolah-olah mereka tidak sedikitpun melakukan kesalahan. Padahal bila mereka mau mengoreksi diri sendiri, apa yang sudah mereka lakukan? Mereka yang sudah tak peduli akan budaya nasional, yang lebih bangga bila fasih melafalkan lagu berbahasa asing, lebih suka melihat pameran budaya luar negeri, fanatisme terhadap budaya asing, misal budaya Jepang dan yang sedang marak belakangan ini budaya girlband boyband ala Korea, berwisata dan belanja di luar negeri, hingga kesombongan diri saat menggunakan merk asing.

“Yogyakarta – Puluhan anggota Himpunan Mahasiswa Islam (HMI) Komisariat Fisipol UGM menggelar demo menolak mahasiswa Malaysia. Aksi itu diawali dari kampus Fisipol di Jl Socio-Yustisia dilanjutkan berkeliling menuju kampus blok kesehatan (eksakta) tempat para mahasiswa asal Malaysia kuliah.Dalam aksi itu juga diwarnai dengan pembakaran replika bendera Malaysia.Mereka juga meneriakkan yel-yel anti Malaysia dan ganyang Malaysia.” (detikNews, 01 September 2009 )

Saya mengambil contoh seperti kasus di atas yang diberitakan oleh salah satu site terkenal. Mahasiswa membela bangsanya ketika bertubi-tubi budayanya diklaim oleh bangsa lain sekilas terlihat jiwa nasionalisme yang sangat tinggi. Namun menurut saya sungguh instan nasionalisme yang berkembang.Mengapa tidak melakukan sejak awal dengan melestarikan budaya itu? Kebakaran jenggot hanya saat bangsa ini genting.Aksi tersebut hanyalah sebuah pertunjukkan nasionalisme laten. Nasionalisme yang kadang justru menunjukkan betapa tidak dewasanya mahasiswa kita.Membenci tindakan Malaysia tidak berarti boleh menghilangkan hak warga negara mereka untuk berkuliah di negara kita.Seharusnya mahasiswa kita berbangga karena kualitas pendidikan kita diakui oleh warga Malaysia. Apakah tidak lebih diplomatis jika kita mengusung dialog dengan kedutaan Malaysia daripada harus memboikot mahasiswa Malaysia untuk menuntut ilmu di Indonesia?

Menurut saya, mahasiswa dengan rendahnya nasionalisme dan idealisme adalah cermin ketidaksiapan mereka memimpin bangsa di masa depan. Mereka sudah terdoktrin dengan motivasi ingin cepat lulus sehingga tidak menyediakan ruang untuk mengembangkan idealisme. Mereka yang nasionalis laten terlalu banyak menuntut tanpa melakukan apapun. Mereka yang tidak dewasa bertindak asal-asalan guna berpura-pura nasionalis.Begitukah pemimpin?

Menurut saya, nasionalisme hanyalah sebuah kata, tak kan hidup bila tidak dihidupkan oleh manusia. Kepemimpinan juga merupakan kata, tak kan hidup bila tidak dihidupkan oleh manusia. Keduanya harus dihidupkan dalam hati kita, agar menyala dan berkobar dalam keadaan apapun. Percayalah bukan nasionalisme laten yang dibutuhkan bangsa ini, tetapi mereka yang benar-benar menyala hatinya karena nasionalisme.  Nasionalisme dalam arti tersederhananya adalah hal yang terjadi setiap harinya.Nasionalisme sejati adalah adanya kesetiaan tertinggi pada negaranya, bersedia dengan bangga melekatkan identitas dan kepribadian nasional di dirinya. Nasionalisme di mata saya adalah melakukan apa yang bisa saya lakukan untuk negeri ini. Saya tidak ingin terlalu banyak menuntut, tidak berkoar-koar dalam euforia aksi jalanan jika memang ada hal lebih baik lainnya yang bisa saya lakukan.Nasionalisme dalam kehidupan saya adalah nasionalisme yang mengalir dalam darah di setiap hari.Tidak perlu terjadi sesuatu terlebih dahulu untuk menjadi nasionalis, karena nasionalisme terjadi setiap harinya.Tidak perlu menunggu pertandingan olahraga antarnegara atau klaim budaya. Tidak perlu berlomba-lomba mengikuti budaya bangsa lain yang sedang menjadi trend anak muda agar tidak dibilang ketinggalan jaman untuk menunjukkan nasionalisme..

Sedangkan nasionalisme praktis yang paling bisa dilakukan bagi mahasiswa saat ini menurut saya adalah memanfaatkan intelektualitas idealismenya untuk membangun bangsa baik melalui tulisan maupun lisan.Begitu pula bila kelak mereka menjadi pejabat atau pelayan publik lainnya, harus bisa menjalankan idealisme yang menggebu dalam pikirannya.

Masa kini adalah masa globalisasi informasi dan kompentensi. Sudah sewajarnya pembuktian nasionalisme  dilakukan dalam bentuk karya nyata dan prestasi yang mampu menjadikan sebuah inspirasi bagi banyak orang. Mengejar prestasi secara akademik dengan pembuktian hasil yang memuaskan merupakan bentuk nasionalisme jika diiringi dengan semangat inovasi dan kreatifitas untuk mengembangkan masyarakat.Mahasiswa kini dituntut mampu membuat karya nyata yang bisa bermanfaat untuk hajat hidup orang banyak. Mahasiswa tidak boleh lagi berpikir tentang pekerjaan apa yang akan didapatkannya setelah lulus, akan tetapi mahasiswa dituntut untuk berpikir keras agar mampu membuka lapangan pekerjaan untuk kesejahteraan masyarakat banyak.  Disinilah peran mahasiswa masa kini dan masa depan, dimana mampu menjadi bagian dari solusi atas permasalahan masyarakat, mampu membangun opini positif di masyarakat dan mampu menginspirasi masyarakat agar memiliki suatu perspektif positif terhadap masa depan Indonesia yang lebih baik.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s