Tawuran Akibat Kurangnya Tokoh yang Patut Ditiru

JAKARTA, KOMPAS.com – Tawuran antar kelompok pelajar di Bintaro memakan korban jiwa. Jeremy Hasibuan (16), siswa SMA Kartika tewas setelah mengalami luka bacok saat tawuran dengan kelompok siswa SMA 87 Bintaro, Pesanggrahan, Jakarta Selatan.
“Pembacoknya sudah ditangkap di rumahnya di Rempoa (Jakarta Selatan),” kata Kanit Reskrim Polsek pesanggrahan Ajun Komisaris Nurdin saat dikonfirmasi, Selasa (7/8/2012).
Tersangka pelaku yang diamankan petugas berinisial AM alias Bogo, siswa SMA 87. Selain AM, pihak kepolisian juga mengamankan enam siswa lainnya yang diduga sebagai pelaku pengeroyokan.
“Tapi yang lain masih belum diketahui perannya,” sambung Nurdin.
Tawuran antar kelompok pelajar itu terjadi pada Senin (6/8/2012) kemarin sore, di Jalan Taman Barat Bintaro antara SMA Kartika dan SMA 87. Tawuran baru terhenti setelah dibubarkan petugas.
Di lokasi kejadian, petugas mendapati Jeremy yang terbujur di jalan akibat terluka setelah tertancap plat besi di bagian kepala. Jeremy pun segera dilarikan ke Rumah Sakit dr Soeyoto, Pesanggrahan. Hingga senin malam, kondisinya masih kritis. Namun, Selasa pagi tadi, nyawanya tak tertolong.
Dari lokasi tawuran, polisi menemukan sejumlah perlengkapan yang digunakan untuk tawuran, diantaranya sabuk berkepala gir motor dan sebuah plat besi tajam. Ikut diamankan satu unit sepeda motor B 6827 WET yang ditinggalkan para pelajar di lokasi.
(http://megapolitan.kompas.com/read/2012/08/07/14592935/Jeremy.Tewas.Dibacok.Saat.Tawuran.Pelajar)
TEMPO.CO, Jakarta – Tawuran antar pelajar kembali terjadi di Bulungan, Jakarta Selatan. Kali ini memakan korban. Satu pelajar tewas dan satu lainnya terluka. Menurut juru bicara Kepolisian Daerah Metro Jaya Komisaris Besar Rikwanto, tawuran antara siswa pelajar SMA 6 dan SMA 70 pecah pada pukul 12.20 WIB. “Setelah bubar, didapati satu korban,” kata Rikwanto, Senin, 24 September 2012.
Tawuran terjadi di Bunderan Bulungan, Jakarta Selatan. Korban bernama Alawi, siswa kelas X SMA 6, berdomisili di Larangan, Ciledug Indah. “Dia mendapat luka tusuk di bagian dada.”
Korban kedua, Ramdan Dinis, kelas XII SMA 6, tinggal di Jalan Piso, Bintaro, Jakarta Selatan. Dia luka di pelipis. Kedua korban dilarikan ke Rumah Sakit Muhammadiyah Taman Puring, Jakarta Selatan. Sayangnya, nyawa Alawi tak tertolong. “Dia meninggal di rumah sakit tidak lama setelah dibawa ke sana,” ujar Rikwanto.
Pemicu tawuran masih belum diketahui. Polisi baru menemukan sebuah celurit di lokasi. “Dugaan kami, itu alat yang digunakan untuk menewaskan korban,” ujarnya. Hingga sekarang kasus ini masih ditangani Polres Jakarta Selatan. Personel kepolisian masih mengulik data dari sekolah. “Kami mengurai kejadian agar tidak terulang. Anggota kepolisian masih ada di lapangan mengejar pelaku.”
(http://tempo.co/read/news/2012/09/24/064431554/Tawuran-Antar-Pelajar-di-Bulungan-1-Siswa-Tewas)
Maraknya peristiwa tawuran pelajar belakangan ini seperti ditunjukkan dari kedua berita tawuran di Jakarta diatas yang bahkan sampai memakan korban jiwa sangat memprihatinkan. Tawuran antarpelajar adalah potret buram generasi muda saat ini. Hal tersebut mencerminkan betapa kondisi genereasi muda di negeri ini tak lagi mencerminkan sikap saling menghormati dan peduli terhadap sesama. Sikap ini tentu sangat memprihatinkan, terlebih generasi muda adalah pendukung keberlanjutan pembangunan di masa datang.
Banyak yang telah memberi solusi untuk mencegah tawuran antarpelajar. Misalnya, memberi sanksi yang berat kepada pelaku tawuran. Selain itu, polisi juga diharapkan lebih mengintensifkan patroli pada jam-jam siswa keluar sekolah. Demikian pula sekolah dan Departemen pendidikan serta kebudayaan diharapkan segera menentukan kebijakan untuk mencegah terulangnya tawuran antar pelajar. Tawuran yang terjadi di negeri ini, bukan hanya kesalahan pihak sekolah. Hal ini merupakan tanggung jawab bersama. Kalau toh mencari siapa yang salah, ini adalah kesalahan semua komponen bangsa termasuk pemerintah dan kita sebagai masyarakat.
Masyarakat juga ikut membentuk seorang anak sehingga jika dia berbuat kekerasan seperti tawuran maka masyarakat seharusnya bisa mencegahnya. Selain itu, beberapa sekolah tidak menyediakan wadah bagi anak untuk mengekspresikan minat dan emosi anak didiknya. Ini juga salah satu pendorong tawuran. Untuk itu, pemerintah mesti lebih berperan sebagai penyeimbang semua pilar karena pemerintah memiliki kekuasaan untuk membuat sebuah sistem pendidikan. Solusi lain berupa penyeimbangan semua pilar dengan memberi siswa wadah dalam mengekspresikan minat dan potensinya. Wadah ini harus menjadi tren dan diperhatikan positif. Pemerintah juga harus menciptakan ‘suasana’ pembelajaran yang tidak hanya fokus pada nilai akhir atau kognisi namun juga afektif. Demikian pula tidak boleh ada derajat atau kasta pada setiap mata pelajaran. Tidak boleh ada derajat dalam pelajaran. Tidak boleh ada stigma bahwa pelajaran satu lebih baik dari yang lain. Selain guru, orangtua dan pemerintah, peran elite untuk menekan tawuran juga sangat menentukan. Peran ini dalam bentuk tindakan dan keteladanan.
Banyak faktor yang menyebabkan seringkali terjadi tawuran antar pelajar Diantaranya, karena saat ini semakin memudarnya faktor keteladanan sosial di dalam masyarakat akibat kurangnya tokoh yang patut ditiru. Terlebih elit masyarakat kerap mempertontonkan intoleransi sosial. Sehingga dengan atau tanpa disengaja banyak berpengaruh terhadap aksi dan tindakan brutal para pelajar atau remaja. Media juga setiap hari mempertontonkan kelakuan korupsi pejabat, kekerasan dan gambaran kemewahan ala sinetron picisan. Akhirnya mereka melihat tingkah laku seperti iitu yang menjadi teladan mereka. Sedang realitanya hidup mereka sangat berat. Mulai dari beban kurikulum di sekolah, hingga tekanan ekonomi keluarga yang berimbas pada hidup mereka. Tawuran antar pelajar biasa terjadi di kota-kota besar, misalnya ibukota DKI Jakarta. Orang-orang yang bersekolah di SMP dan SMA di Jakarta biasanya tahu bagaimana kerasnya kehidupan di Jakarta. Mulai dari mengatur waktu kerjakan tugas, naik kendaraan umum yang sangat tidak nyaman. Semuanya membuat anak pelajar jadi tidak manusiawi. Belum lagi, gangguan peredaran narkoba dan bullying di sekitar mereka. Semua itu membuat pelajar yang baru masuk ke dunia ‘nyata’ terkaget-kaget oleh kejamnya dunia.

Kemudian, menggejalanya tindak kekerasan disekolah, baik yang dilakukan oleh guru kepada siswa maupun kekerasan yang terjadi di antara mereka seperti menjadi faktor pemicu munculnya lingkaran setan kekerasan. Kekerasan yang ditimbulkan akan melahirkan kekerasan berikutnya. Faktor lainnya adalah lemahnya penanaman nilai pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan moral dan agama mendapatkan tempat yang tidak proporsional dan terlampau sedikit dibandingkan pelajaran. lain. Faktor lainnya adalah lemahnya penanaman nilai pendidikan karakter di sekolah. Pendidikan moral dan agama mendapatkan tempat yang tidak proporsional dan terlampau sedikit dibandingkan pelajaran lain.
Sebuah episode kehidupan dimulai dari bayi, anak, remaja, dewasa, usia lanjut sampai meninggal. Remaja, dalam bidang kesehatan didefinisikan sebagai seseorang yang berumur 10 – 19 tahun dan belum menikah. Adanya batasan waktu dimaksudkan untuk memberikan kesempatan melakukan evaluasi jika sampai usia maksimal, yaitu 19 tahun, tanda-tanda yang menunjukkan berubahnya fase usia atau episode kehidupan belum juga muncul.
Fase kehidupan remaja diawali dengan mulai berfungsinya organ-organ reproduksi yang dipicu oleh peningkatan aktifitas hormon. Hormon-hormon yang mulai aktif pada usia remaja tidak hanya memunculkan tanda-tanda kelamin primer seperti menstruasi dan mimpi basah, melainkan juga tanda-tanda kelamin sekunder seperti perubahan bentuk tubuh secara fisik dan juga perubahan secara mental, sosial, budaya, lingkungan dan spiritual. Seperti tingginya rasa ingin tahu di kalangan remaja, perubahan lingkungan pergaulan, perubahan kemampuan berpikir dan berperilaku, rasa tertarik kepada lawan jenis, sampai perubahan gaya hidup. Perubahan-perubahan inilah yang memungkinkan munculnya permasalahan di kalangan remaja. Seperti kenakalan remaja, tawuran, gaya hidup bebas yang bisa menjerumuskan remaja kepada kehidupan seks bebas, atau bahkan banyak juga remaja yang terjerumus dan terjerat oleh narkoba dan juga HIV-AIDS. Tetapi, permasalahan di lingkungan remaja juga bisa menjadi pemicu permasalahan yang muncul pada diri remaja itu sendiri. Seperti kurangnya kasih sayang dan perhatian dari orang tua, tidak adanya keteladanan yang bisa dijadikan contoh yang baik bagi remaja, baik itu di rumah, di sekolah dan juga di masyarakat, kurangnya ruang bagi remaja untuk mengaktualisasikan dirinya, dan lain sebagainya.
Ditinjau dari segi usianya, pelajar yang sedang menempuh pendidikan di SMP maupun SMA memang sedang mengalami periode yang sangat potensial bermasalah. Pada fase ini, pelajar atau remaja sering digambarkan sebagai topan dan badai atau storm and drang yang mudah tersulut emosi dan mengalami tekanan jiwa. Sehingga perilaku mereka mudah menyimpang. Dalam situasi konflik dan problem ini remaja tergolong dalam sosok pribadi yang tengah mencari identitas dan membutuhkan tempat penyaluran kreativitas. Jika tempat penyaluran tersebut tidak ada atau kurang memadai, mereka akan mencari berbagai cara sebagai penyaluran. Salah satu caranya, yaitu tawuran. Selain hal-hal tersebut di atas, ruang berkreasi bagi para pelajar untuk menyalurkan hobi, bakat dan minatnya justru sangat terbatas dan tergerus oleh hiruk pikuk bisnis, termasuk ruang publik yang bernama televisi. Kecenderungan ruang publik (televisi) yang menjejali para remaja (dan publik pada umumnya) dengan nilai-nilai dan budaya materialism, hedonisme, konsumerisme bahkan tayangan-tayangan kekerasan fisik lainnya tak jarang menjadi pemicu gagalnya internalisasi diri siswa dalam menyelesaikan masalah-masalah di sekeliling mereka. Walhasil, tindakan brutal disetiap tawuran adalah jawaban dari kegagalan pelajar dalam melakukan adaptasi dengan lingkungan yang semakin kompleks.
Orang tua adalah teladan utama untuk anak-anaknya, termasuk anak yang menginjak usia remaja. Jika di rumah, orang tua adalah teladan untuk anaknya, maka di sekolah guru adalah teladan untuk anak didiknya. Keteladanan itu penting. Teladan dalam segala hal, termasuk gaya hidup. Setiap remaja mempunyai rasa ingin menjadi seperti idolanya. Remaja mempunyai rasa ingin diakui di dalam kelompoknya. Remaja mempunyai rasa ingin menjadi pusat perhatian. Dan banyak lagi keinginan-keinginan yang lainnya. Termasuk sikapnya yang kritis terhadap segala yang terjadi di sekitarnya. Disinilah pentingnya keteladanan, karena remaja masih belum mampu berpikir secara dewasa. Yang dia tahu adalah apa yang dia lihat, apa yang dia dengar, apa yang dia rasakan dan apa yang dia baca. Pendampingan dari orang-orang terdekatnya akan mampu memberinya jalan untuk berproses menuju dewasa.
Apabila remaja berhasil memahami dirinya, peran-perannya, dan makna hidup beragama, maka dia akan menemukan jati dirinya, dalam arti remaja akan memiliki kepribadian yang sehat. Sebaliknya apabila gagal, ia akan mengalami kebingungan atau kekacauan. Suasana kebingungan ini berdampak kurang baik bagi remaja. Remaja cenderung kurang dapat menyesuaikan dirinya, baik terhadap dirinya sendiri maupun orang lain. Untuk mengawal masa remaja, tantangan yang utama diperlukan adalah pentingnya teladan yang konsisten. Persoalannya, dapatkah seorang dewasa menjadi model atau teladan bagi remaja. Khususnya guru di sekolah dapat menginternalisasikan nilai-nilai kehidupan melalui pembelajaran yang disampaikan.
Contohnya, nilai jujur, menghormati perbedaan, dan rasa tanggung jawab dapat diintegrasikan pada pelajaran matematika dengan strategi problem solving di kelas, artinya sambil belajar, ada agenda tersembunyi di mana nilai-nilai universal dan perubahan anak secara tidak sadar terbangun dalam dirinya. Begitu pula halnya dengan disiplin dan keterbukaan. Hal yang harus diketahui pula bahwa ada bahaya laten pada remaja yang sering menjadi persoalan mereka, antara lain kepercayaan diri, penghargaan diri, disiplin, dan kemampuan memecahkan masalah.
Adapun masalah yang berkaitan dengan kenakalan remaja, orang dewasa tidak serta-merta memberikan “label” tertentu, tanpa mengetahui latar belakang permasalahan yang sesungguhnya. Salah satunya dengan cara menciptakan iklim yang kondusif untuk memberikan ruang pada siswa dalam mengekspresikan dirinya. Hubungan guru siswa tercipta secara baik sehingga jika ada siswa remaja yang memiliki kecenderungan “berisiko” dapat diminimalkan. Pendekatan yang baik dari tim sekolah, biasanya senantiasa menghasilkan kemajuan, sekecil apa pun, terhadap perubahan tingkah laku yang termunculkan.
Atas dasar itu, perlu adanya tindakan para elite masyarakat dan pemerintah sebagai pihak yang paling bertanggung jawab untuk melakukan upaya-upaya. Di antaranya menghadirkan figure tokoh yang baik dan mentradisikan sikap santun, sebagai contoh dan suri tauladan bagi para remaja demi terciptanya suasana harmonis, toleran, saling menghormati dan mengasihi antar sesama. Pemerintah dalam hal ini Depdikbud perlu untuk membuat kebijakan-kebijakan di sekolah yang disertai dengan sistem pengawasan intensif dan terukur untuk mencegah dan menghentikan praktik bullying disekolah. Kemudian lembaga pendidikan/sekolah perlu didorong agar berperan aktif dalam kegiatan belajar mengajar serta mengefektifkan kegiatan keorganisasian, ruang berkreasi baik intra maupun ektstrakurikuler sekolah yang aksesibel untuk semua, terutama pelajar. Yang tidak kalah penting, lembaga pendidikan/sekolah harus berusaha untuk memperkuat pendidikan karakter dan budi pekerti yang berorientasi pada pembentukan sikap dan perilaku para siswanya.
Selain elite masyarakat dan pemerintah, menurut saya peran yang paling menonjol untuk membangun kembali perilaku yang positif pada remaja atau pelajar adalah guru. Yang paling urgen dalam hal ini adalah peran seorang guru. Waktu mereka terkadang lebih banyak di tempat pendidikan yaitu sekolah dari pada di rumah sendiri. Untuk itulah ada beberapa aspek yang harus ditanamkan oleh seorang guru pada muridnya, terutama mahasiswa jurusan pendidikan yang akan menjadi calon guru.
Pertama, hal yamg lebih penting adalah memberi contoh yang baik. Gerak langkah seorang guru adalah percontohan bagi anak didiknya. Karena selain ilmu yang akan diberikan ia juga secara otomatis telah memberikan contoh yang baik kepada mereka. Tindakan positif guru akan membuahkan perilaku positif pada murid. Sungguh naif, ketika guru melarang muridnya melakukan hal negatif, tetapi diri sendiri melakukannya walaupun dengan diam- diam.
Kedua, hendaknya guru sesering mungkin memberikan nasihat bijak. Kata- kata bijak yang diselipkan dalam pelajaran biasanya diserap dengan mudah oleh
murid. Karena tidak jarang ketika guru memberikan kata bijak, murid secara langsung mempraktekannya setelah keluar dari kelas.
Ketiga, mengajar dengan tujuan ikhlas dan niat yang baik untuk membangun generasi yang berkualitas. Salah satu hadits menyatakan, “amalan tergantung pada niatnya”. Jika niatnya baik, akan baik pulalah apa yang akan diperoleh. Kata bijak menyatakan, “sesuatu yang keluar dari hati maka akan sampai ke hati. Cinta mereka kepada kalian dan cinta kalian kepada mereka memiliki hubungan. Dan sesuatu yang disampaikan dari lisan tanpa ada niat yang tulus, maka cukup sampai di telinga saja, tidak sampai ke hati.”
Keempat, mendo’akan anak didiknya. Sempatkan sehari dalam ibadah untuk mengingat anak didik. Doa ini sangat penting sebagai wujud dari usaha spiritual dengan meniru akhlak para nabi. Jangan hanya merasa miris ketika melihat pola pelajar yang sampai melanggar hukum negara, apalagi hukum agama. Namun, juga perlu bertanya kepada diri sendiri, berapa kali telah mendoakan mereka?
Keempat hal tersebut merupakan sebagian aspek dalam bentuk usaha. Tetapi, ketika murid tetap berperilaku yang kurang baik, itu tidak lebih dari wadah yang masih kotor. Wadah tersebut tidak lain adalah hati. Karena ketika hati sudah kotor, maka akan berdampak pada keseluruhan. Bersihkan wadahnya terlebih dahulu, untuk mengubah perilaku- perilaku mereka. jadilah guru atau calon guru yang yang menciptakan keteladanan bagi murid- muridnya.

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s